Hidup Bersama Orang Amity
Tuhan telah menulis takdir setiap manusia dengan kemampuan mereka masing-masing. Setiap orang yang tumbuh bersama dengan masyarakat yg majemuk akan mengalami perbedaan pandangan dari setiap sisi permasalahan. Mereka meyadari setiap keadaan memerlukan pendampingan yang rasional untuk tetap bisa bertahan hidup, membantu sesama, juga melayani setiap orang yang membutuhkan. Setiap manusia kodratnya saling membutuhkan satu sama lain. Sebagian ada orang ada yang mengganggap golongan mereka berada diatas dari pada golongan yang lain. Sebagian lagi mengganggap mereka memang berada di bawah dengan pertimbangan mereka sendiri. Sebagian lagi memang merasa golongan tidak semestinya diangkat terlalu tinggi karena itu bisa memicu perselisihan dengan golongan-golongan yang lain.
Hidup bersama orang-orang di desa memang memerlukan extra pemahaman. Perlu kiranya memahami kondisi geografis, pendidikan, dan kehidupan sosial yang mereka terapkan sehari-hari. Perpindahan orang kota ke desa biasanya terkejut melihat perubahan perbedaan keadaan kota dan desa. Hal ini biasa membuat mereka (orang kota) tidak betah berada di desa lantaran fasilitas infrastruktur, perputaran ekonomi yang lambat, pelayanan publik yang kurang, dan banyak kekurangan lainnya. Namun, sebenarnya pola seperti itu bukan kita rubah itulah kebiasaan orang-orang amity gaya hidup mereka tenang, damai, jauh dari hiruk pikuk, panen hasil alam yang mereka kelola sendiri. Mereka lebih mandiri secara pikiran karena mereka menciptakan bukan menunggu menjadi pembeli yang senantiasa mengandalkan keberadaan rupiah.
Nah, disinilah sebenarnya hal mendasar yang harus difahami oleh semua orang bahwa hidup itu tidak sendirian. Semua saling keterkaitan antara kota dan desa, kaya-miskin, tua-muda, rakyat-pemerintah, guru-murid dan lain sebagainya. Semuanya saling membutuhkan. Untuk itu, mari bahu membahu ciptakan kesinambungan hidup yang madani atau ber-peradaban dengan menjunjung tinggi hukum alam dan kehidupan sosial bermasyarakat demi terciptanya simbiosis mutualisme sehingga menjadi kehidupan yang rukun, damai, sejahtera untuk kehidupan generasi penerus selanjutnya. wallahu a'lam
Hidup bersama orang-orang di desa memang memerlukan extra pemahaman. Perlu kiranya memahami kondisi geografis, pendidikan, dan kehidupan sosial yang mereka terapkan sehari-hari. Perpindahan orang kota ke desa biasanya terkejut melihat perubahan perbedaan keadaan kota dan desa. Hal ini biasa membuat mereka (orang kota) tidak betah berada di desa lantaran fasilitas infrastruktur, perputaran ekonomi yang lambat, pelayanan publik yang kurang, dan banyak kekurangan lainnya. Namun, sebenarnya pola seperti itu bukan kita rubah itulah kebiasaan orang-orang amity gaya hidup mereka tenang, damai, jauh dari hiruk pikuk, panen hasil alam yang mereka kelola sendiri. Mereka lebih mandiri secara pikiran karena mereka menciptakan bukan menunggu menjadi pembeli yang senantiasa mengandalkan keberadaan rupiah.
Nah, disinilah sebenarnya hal mendasar yang harus difahami oleh semua orang bahwa hidup itu tidak sendirian. Semua saling keterkaitan antara kota dan desa, kaya-miskin, tua-muda, rakyat-pemerintah, guru-murid dan lain sebagainya. Semuanya saling membutuhkan. Untuk itu, mari bahu membahu ciptakan kesinambungan hidup yang madani atau ber-peradaban dengan menjunjung tinggi hukum alam dan kehidupan sosial bermasyarakat demi terciptanya simbiosis mutualisme sehingga menjadi kehidupan yang rukun, damai, sejahtera untuk kehidupan generasi penerus selanjutnya. wallahu a'lam
Komentar
Posting Komentar